Friday, 26 August 2011

KISAH IBU & ANAK..

20 tahun yang lalu saya melahirkan seorang bayi laki-laki, wajahnya comel tetapi nampak bodoh. Ali, suamiku memberinya nama Yusri. Semakin lama semakin nampak jelas bahawa anak ini sedikit terkebelakang. Saya berniat mahu memberikannya kepada orang lain sahaja supaya dijadikan budak atau pelayan bila besar nanti. Namun Ali mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga.Pada tahun kedua kelahiran Yusri, saya pun melahirkan pula seorang anak perempuan yang cantik. Saya menamakannya Yasmin. Saya sangat menyayangi Yasmin, begitu juga Ali. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikan pakaian anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Yusri. Ia hanya memiliki beberapa helai pakaian lama. Ali berniat membelikannya, namun saya selalu melarang dengan alasan tiada wang. Ali terpaksa menuruti kata saya.

Saat usia Yasmin 2 tahun, Ali meninggal dunia. Yusri sudah berumur 4 tahun ketika itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin bertambah. Saya mengambil satu tindakan yang akhirnya membuatkan saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya bersama Yasmin. Saya tinggalkan Yusri yang sedang tertidur lelap begitu saja.

Setahun.., 2 tahun.., 5 tahun.., 10 tahun.. berlalu sejak kejadian itu. Saya menikah kembali dengan Kamal, seorang bujang. Usia pernikahan kami menginjak tahun kelima. Berkat Kamal, sifat-sifat buruk saya seperti pemarah, egois dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Yasmin sudah berumur 15 tahun dan kami menyekolahkan dia di sekolah jururawat. Saya tidak lagi ingat berkenaan Yusri dan tiada memori yang mengaitkan saya kepadanya. Hinggalah ke satu malam, malam di mana saya bermimpi mengenai seorang anak. Wajahnya segak namun kelihatan pucat sekali. Dia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum dia berkata;

"Makcik, makcik kenal mama saya? Saya rindu sekali pada mama!"

Sesudah berkata demikian dia mulai pergi, namun saya menahannya.

"Tunggu..., saya rasa saya kenal kamu. Siapa namamu wahai anak yang manis?"

"Nama saya Yusri, makcik."

"Yusri...? Yusri... Ya Tuhan! Benarkah engkau ni Yusri???"

Saya terus tersentak dan terbangun. Rasa bersalah, sesal dan pelbagai perasaan aneh yang lain menerpa diri saya pada masa itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah yang terjadi dulu seperti sebuah filem yang ditayangkan kembali di kepala saya. Baru sekarang saya menyedari betapa jahatnya perbuatan saya dulu. Rasanya seperti mahu mati saja saat itu.

Ya, saya patut mati..., mati..., mati...!

Ketika tinggal seinci jarak pisau yang ingin saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Yusri melintas kembali di fikiran saya.

Ya Yusri, mama akan menjemputmu Yusri, tunggu ya sayang !

Petang itu saya membawa dan memarkir kereta Civic biru saya di samping sebuah pondok, dan ia membuatkan Kamal berasa hairan. Beliau menatap wajah saya dan bertanya;

"Hasnah, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kita berada di sini?"

"Oh abang, abang pasti akan membenci saya selepas saya menceritakan hal yang saya lakukan dulu."

Aku terus menceritakan segalanya sambil teresak-esak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Selepas tangisan saya reda, saya keluar dari kereta dengan diikuti oleh Kamal dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter di hadapan saya. Saya mula teringat yang saya pernah tinggal dalam pondok itu dan saya tinggalkannya.

Yusri.. Yusri... Di manakah engkau, nak?

Saya meninggalkan Yusri di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri pondok tersebut dan membuka pintu yang diperbuat daripada buluh itu.

Gelap sekali.
Tidak terlihat sesuatu apapun di dalamnya!

Perlahan-lahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan di dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemui sesiapapun di dalamnya. Hanya ada sehelai kain buruk yang berlonggok di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan betul-betul. Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain itu. Ini adalah baju buruk yang dulu dipakai oleh Yusri setiap hari.

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sangat sedih dan bersalah, sayapun keluar dari ruangan itu. Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Kamal mulai menaiki kereta untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang berdiri di belakang kereta kami. Saya terkejut sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang sangat kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Saya terkejut lagi apabila dengan tiba-tiba dia menegur saya. Suaranya parau.

"Heii...! Siapa kamu?! Apa yang kamu mahu?!"

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya;

"Ibu, apakah ibu kenal dengan seorang anak bernama Yusri yang dulunya tinggal di sini?"

Dia menjawab;

"Kalau kamu ibunya, kamu adalah perempuan terkutuk!! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Yusri terus menunggu ibunya dan memanggil;

'Mama, mama!'

"Kerana tidak tahan melihat keadaannya, kadang-kadang saya memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemungut sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu!"

"Tiga bulan yang lalu Yusri meninggalkan sehelai kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu..."

Saya pun membaca tulisan di kertas itu...

"Mama, mengapa mama tidak pernah kembali lagi...? Mama marah pada Yusri, ya? Mama, biarlah Yusri yang pergi saja, tapi mama harus berjanji mama tidak akan marah lagi pada Yusri." Saya menjerit histeria membaca surat itu.

"Tolong bagi tahu.. di mana dia sekarang? Saya berjanji akan menyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi! Tolonglah cakap...!!!"

Kamal memeluk tubuh saya yang terketar-ketar dan lemah.

"Semua sudah terlambat. Sehari sebelum kamu datang, Yusri sudah meninggal dunia. Dia meninggal di belakang pondok ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang pondok ini tanpa berani masuk ke dalamnya. Dia takut apabila mamanya datang, mamanya akan pergi lagi apabila melihatnya ada di dalam sana. Dia hanya berharap dapat melihat mamanya dari belakang pondok ini. Meskipun hujan deras, dengan keadaannya yang lemah ia terus berkeras menunggu kamu di sana . Dosa kamu tidak akan terampun!"

Ya Allah! Ampunkanlah dosaku! Yusri, ampunkan mama nak

Thursday, 25 August 2011

Aku hanya insan biasa yang tidak lepas dari melakukan dosa..

Entah mengapa..
Ketika aku melihat indahnya alam..
Hatiku menangis..
Air mata maknawi mengalir dalam dadaku..
Pilu sayu terasa..
Hatiku berkata..
Tuhan , tidak kau jadikan sia-sia..
Aku ini hanyalah hambaMu..
YAng banyak melakukan dosa..
Layakkah aku menikmati keindahanmu ini..
Sedangkan hatiku buta dalam mengenalimu..

Ohh..sesungguhnya aku sentiasa menzalimi diriku sendiri..
Ajarkanlah aku bertaubat Ya Tuhan..
Didiklah aku yang selalu tersasar ini..
Tanpa pimpinanmu..
Tiada makna lagi hidup ini..
Bagai dedaun kering..
Yang terbang dibawa angin lalu..
Tiada arah dan tujuan lagi..

Tenanglah duhai hati...







Setiap hari kita ketawa. Setiap hari kita jumpa kawan. Setiap hari kita dapat apa yang kita nak.
Tapi..kenapa hati kita tak gembira?

Kita sembahyang setiap hari. Kita berdoa selalu pada Allah. Kita mintak sungguh-sungguh pada Allah. Tapi..kenapa susah sangat doa kita nak makbul? Sedangkan Allah ada berfirman. "Berdoalah pada Ku, nescaya akan Ku kabulkan...,"

Apa masalah kita?

Hati kita tak gembira sebab kita tak pernah bersyukur dengan apa yang kita ada. Kita tak pernah nak menghargai setiap nikmat yang kita dapat. Kita asyik memikirkan benda yang kita tak ada, sampai kita lupa melihat nikmat sekeliling kita.

Kita berdoa, tapi kenapa payah sangat doa kita Allah nak makbulkan?

Sebab kita asyik meminta pada Allah, tapi kita tak pernah mintak ampun pada Allah, sedangkan dosa-dosa kita terlampau banyak pada Allah. Alangkah tidak malunya kita. Kita merintih, kita merayu agar Allah makbulkan doa kita. Tapi, lepas kita dapat kesenangan kita lupa pada Allah, kita tak bersyukur pada Allah. Bila dah datang kesusahan, baru nak ingat Allah balik. Baru nak menangis, merintih..mintak Allah pandang kita. Macam mana Allah nak makbulkan doa kita?

Cuba kita renung diri kita. Cuba hitung, berapa kali kita sebut kalimah syukur dalam satu hari? Tak payah seminggu, cukuplah sehari sahaja. Berapa kali agaknya? Itupun kalau ada sebut la..

Pernah kita bangun malam, solat sunat...solat tahajud..solat taubat? Pernah? Ada...waktu zaman sekolah dulu. Itupun, lepas kene ketuk dengan warden, suruh bangun. Lepas tu...ada? Ada...time dah nak exam...waktu rasa result macam ada aura nak fail. Siap buat solat hajat lagi! Lepas dapat result tu, ada tak buat sujud syukur? Hmm...entah la, tak ingat pulak.

Hari-hari kita buat baik. Kita tolong orang. Kita sedekah dekat orang. Kita buat macam-macam. Tapi kenapa kita tak dapat nak rasa kemanisan setiap perbuatan yang kita lakukan tu? Hati kita tetap jugak tak tenang. Kenapa ye? Sebab dalam hati kita tak ada sifat ikhlas. Mulut cakap ikhlas, hati kata lain. Macam mana tu? Kita tolong orang sebab nak harapkan balasan. Nakkan pujian. Nakkan nama. Kita riak dengan setiap kebaikan yang kita buat. Macam mana hati nak tenang? Bila dapat kejayaan, kita bangga dengan apa yang kita ada. Mula nak menunjuk-nunjuk dekat orang. Sampai lupa siapa sebenarnya yang bagi kejayaan tu dekat kita.

Alangkah tidak malunya kita..., Allah ciptakan kita sebagai khalifah di bumi ni. Kitalah sebaik-baik kejadian yang Allah pernah ciptakan sehinggakan semua makhluk sujud pada bapa kita, Nabi Adam kecuali Iblis Laknatullah. Betapa Allah muliakan kejadian manusia. Tapi, kita sendiri tidak memelihara diri kita. Kita lupa tanggungjawab kita sebagai hamba. Kita lupa kepada yang mencipta diri kita. Bahkan, kita alpa dengan nikmat yang ada. Nabi Muhammad s.a.w, pada saat malaikat ingin mencabut nyawa Baginda, Baginda masih memikirkan umat-umatnya. Ummati! Ummati! Sampai begitu sekali sayang Rasulullah pada kita. Tapi kita....? Kita lupa pada Baginda Rasul. Berat benar lidah kita nak berselawat ke atas baginda. Macam mana hati kita nak tenang?
Lembutkanlah hati kita. Tundukkan lah diri kita pada Allah. Bersyukur dengan nikmat yang Allah pinjamkan pada kita. Semua itu tidak akan kekal. Bila-bila masa Allah boleh tarik balik semua itu. Ikhlas kan lah hati dalam setiap perkara yang kita buat.

Sesungguhnya, hanya Allah sahaja yang berkuasa menilai keikhlasan hati kita. Insya Allah, kita akan dapat merasai kelazatan halawatul iman itu sendiri. Tenanglah dikau wahai hati...

Wednesday, 24 August 2011

c!nTa Hakik!...

Tuhan....
Saat aku menyukai seorang teman
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama Yang Tak Pernah Berakhir

Tuhan.....
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati Mu
Agar kerinduanku terhadap - Mu semakin menjadi

Tuhan.......
Jika aku hendak mencintai seseorang
Temukanlah aku dengan orang yang mencintai - Mu
Agar bertambah kuat cintaku pada - Mu

Tuhan......
Ketika aku sedang jatuh cinta
Jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku pada - Mu

Tuhan....
Ketika aku berucap aku cinta pada - Mu
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada - Mu
Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena - Mu




Sebagaimana orang bijak berucap
Mencintai seseorang bukanlah apa - apa
Dicintai seseorang adalah sesuatu
Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah berarti
Tapi dicintai oleh Sang Pencinta adalah segalanya







Tuesday, 23 August 2011

Untukmu Adam :



Jadilah Adam yang berpendidikan tinggi dalam agama yang bisa membimbing Hawa dari menjadi mangsa godaan syaitan dan nafsu yang boleh membinasakan. Jadilah Adam yang murah dengan kata-kata nasihat dan teguran yang boleh memperbaiki Hawa. Jadilah Adam yang sentiasa berjuang menentang nafsu dan memelihara maruah diri untuk orang tercinta yang sah bergelar isteri. Jadilah juga Adam yang boleh menjadi ketua keluarga, imam dalam solat berjemaah dan pemimpin agama seperti yang diingini oleh Hawa.

Untukmu Hawa :




Jadilah Hawa yang tinggi dengan didikan agama, merendah diri dengan akhlak terpuji dan baik hati. Jadilah Hawa yang menjaga aurat dan maruah diri dari sewenang-wenangnya dilihat ajnabi. Jadilah Hawa yang sentiasa haus akan ilmu nasihat dan teguran sebagai persiapan menjadi Hawa yang solehah untuk seorang yang sah bergelar suami. Jadilah juga seorang Hawa yang bisa menjadi anak, ibu dan isteri yang solehah serta hamba Allah yang beriman dan bertaqwa seperti yang diidamkan oleh Adam.

YA ALLAH...


Ya ALLAH,
Maniskan hatiku dengan iman,
Cukupkan aku dengan bekalan sabar,
Meredah lautan hidup penuh dugaan ini.
Ya ALLAH,
Bantulah aku atasi amarah ini,
Dengan iman dan taqwa,
Kerana kata Luqmanul Hakim,
Taqwa adalah perahu yang utuh,
Di tengah lautan hidup ini.
Ya ALLAH,
Teguhkan hatiku,
Untuk terus melangkah dalam hidup ini,
Yang kurasakan saban hari memeritkan,
Jadikan ia kembali salju,
Kerana sabda Rasulullah s.a.w.,
Dunia ladang akhirat.
Ya ALLAH,
Aku ingin bahagia seperti mereka,
Meredah lautan dalam kedamaian dan kenyamanan.
Andai aku belum layak ya ALLAH,
Maka layakkanlah aku,
Dengan bekalan iman dan taqwa itu,
Yang kuyakini hanya itu,
Yang dapat menyelamatkan daku,
Dari berputus asa dengan rahmatMU...

Pengajaran untuk kita semua..


Aku Ingin Berubah

“Saya tahu, awak memang orang baik”
“Kau kan budak baik, tiada jahat pun”
Ayat yang biasa aku dengar dari orang. Oh, aku budak baik. Hakikatnya, balik-balik aku cakap, aku ni kejam orangnya. Mungkin sebab janggut aku ni macam ustaz, penampilan pun suci jak, memang terserlah “kebaikan” yang ditonjolkan.
Seram, takut, malah segan. Baik? Ustaz? Maaf, aku bukan baik, jauh lagi untuk dikatakan ustaz. Hanya kerana satu ketika aku sekolah agama, dan aku juga suka membicarakan tentang agama, maka terus dicop budak baik!
Kejahatan yang aku lakukan, hanya Allah dan diriku mengetahuinya. Dosa besar pun ada, dosa kecil apatah lagi. Mungkin ada yang tahu apa yang aku lakukan, tetapi perkara tersebut tidaklah seteruk mana pada dunia akhir zaman sebab kejahatan telah berleluasa, hanya tinggal menunggu masa untuk dibinasa.
Syukur, aku diberi kesedaran atas dosa yang aku lakukan. “Terima kasih cinta, untuk segalanya, kau berikan lagi, kesempatan itu”, bait lagu Afgan, mesti korang fikir aku jiwang. Ya, cinta Allah kepadaku, kerana memberi kesempatan untuk aku memperbaiki diri.
******************************
Fudhail Bin Iyadh, seorang ahli ibadah yang terkenal. Kisahnya telah dinukilkan sebelum ini dalam artikel “Dia antara tokoh terulung“. Namun, sebelum beliau menjadi seorang ulama yang disegani, beliu merupakan seorang penyamun!
Sebab-sebab taubatnya ialah kerana pada suatu hari ia tertarik oleh seorang wanita yang sangat cantik. Ketika beliau sedang memanjat tembok rumah wanita itu untuk melepaskan keinginannya terhadap wanita itu, tiba-tiba terdengar olehnya suara orang yang sedang membaca Al-Qur’an yang artinya:
“Belumlah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” (Al-Hadid, 16).
Ayat tersebut menembus hati sanubarinya dan sangat mempengaruhinya, sehingga ia menjadi sedar akan dirinya yang telah terpesong selama ini. Lalu ia berkata,“Oh Tuhan, telah tiba sekarang waktunya.” Ia pun bertaubat dengan setulus-tulusnya.
Lalu ia hendak pulang ke rumahnya. Tetapi karena hari telah larut malam, ia pun pergi ke suatu pondok. Tiba-tiba ternampak olehnya serombongan musafir. Sebahagian dari mereka berkata,“Ayuh kita berangkat.”
Yang lain menjawab,“Jangan, lebih baik tunggu sampai pagi. Sebab, pada malam-malam seperti inilah Fudhail menjalankan aksinya.”
Mendengar percakapan mereka itu, Fudhail lalu menunjukkan dirinya sambil berkata,“Akulah Fudhail. Tetapi sekarang, aku telah bertaubat dan tidak akan menyamun lagi.”
******************************
Mengapakah dititipkan kisah mengenai Fudhail tersebut?
Kebanyakkan kita disajikan dengan ahli ibadah yang teramat hebat kisahnya, namun seringkali juga kita mengeluh, “mana mungkin aku mampu menjadi sedemikian rupa.”
Keinginan untuk berubah bukanlah mampu untuk kita melakukan secara mendadak, tapi, tanpa satu langkah yang kecil, tidak mungkin perubahan mampu dilaksanakan.
Dan rasanya untuk berubah dari kejahatan yang tidak nampak lagi susah berbanding yang secara terang-terangan. Yang jelas, mungkin ada sudi tegur, tapi yang diketahui antara aku dan Dia, hanya aku sahaja mampu untuk melakukan langkah perubahan tersebut.
Titik permulaan perubahan diri ini bermula dari zaman lewat persekolahan. Tapi darah ketika itu masih panas, sekejap iman bertambah, dan pandai juga kurang. Titik perubahan terbesar, detik beberapa hari sebelum Ramadhan tahun 2010.
Aku bersyukur aku dapat menempuhi ujian berupa cinta manusia ketika itu. Diharap dapat istiqamah dalam apa yang dilaksanakan. Terus mempertingkatkan diri, kerana ingin yang terbaik dalam hidup ini.
Teringat ibu dan bapaku, mampukah doaku memberi rahmat jika mereka tiada nanti? Sebagai lelaki yang bertanggungjawab terhadap seorang wanita yang aku kenal kebaikannya, mampukah aku menjadi yang terbaik buatnya? Itulah motivasi diriku dalam sentiasa memperbaiki diri. Terima kasih buat mereka ini.
Marabbuka, moga aku mampu menjawabnya dengan baik, oleh itu, aku mesti sentiasa mempertingkatkan diri, sebelum ajal menjemput bila tiba saatnya nanti.
******************************